Make your own free website on Tripod.com

Yayasan Peduli Kasih (YAPEKA)

Newsletter Page
Home
About Us
Contact Us
Recent and Upcoming Events
Newsletter Page
Getting Involved
Members Page
Profile
Links
Gallery

BERITA-BERITA SEKITAR YAPEKA

bdream_clr_flower_xl.jpg

Orang Baik Itu Akhirnya Menjadi Tersangka
(

Disadur dari      : Majalah Prospektif
Edisi                : 16 - 22 Mei 2005
Ditulis oleh       : NSD

Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurmu. (Amsal 3: 9-10)

Bagi Dirut Bank Mandiri ECW Neloe, ayat itu tidak hanya dihafal di luar kepala, dan menjadi favoritnya, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupannya sehari-hari.  Hebatnya dalam hal "memuliakan" Tuhan ini, Neloe tidak pilih-pilih.  Tak heran, meski ia sebagai pemeluk Protestan yang taat, tapi ia juga rajin membantu pembangunan Mesjid, dan juga meaikkan haji karyawannya, serta orang-orang yang ingin naik haji tapi tidak punya dana.  Sedangkan untuk gereja, tentu saja sudah tidak terhitung lagijumlah gereja yang sudah dibantu pembangunannya.
 
Neloe yang sejak menjadi karyawan  di BDN sampai menjadi Dirut Bank Mandiri tidak pernah pindah ruman (rumahnya di daerah Permata Hijau) ini, pernah suatu kali mengatakan, bahwa harta dan kekayaan yand diperoleh bukanlah menjadi haknya, tetapi menjadi hak Tuhan.  Dan prinsip hidup itulah yang membuat tangannya selalu terulur untuk memberikan yand dimilik kepada yang lemah.
 
Tak hanya itu, Neloe juga gampang terenyuh bila ia melihat umat Tuhan yang menderita.  Sebagai gambaran, suatu kali, ketika Neloe datang ke Aceh untuk melihat korban trunami yang ada di penampungan, Neloe nampak sangat gusar, dan seperti orang bingung.  Usut punya usut, rupanya ia tidak tahan mendengar keluhan para korban, dan ingin saat itu juga memberikan bantuan.  Namun keinginan itu dilarang oleh pejabat setempat, karena dikhawatirkan akan terjadi rush, karena para pengungsi akan rebutan duit.  Namun Neloe saat itu tidak kehilangan akal, sebelum naik ke bus yang membawa rombongan, Neloe membisikkan kepada staffnya, sambil menitipkan uang cash yang besarnya mencapai puluhan juga rupiah yang sengaja ia bawa dari Jakarta, untuk dibagikan secara diam-diam kepada para pengungsi tersebut.  Kali lain, mata Neloe pernah berlelehan air mata, di depan Masjid Aging Lhoksumawe, manakala ia melihat anak-anak kecil berhamburan menyerbunya, sambil menengadahkan tangan meminta uang darinya. "Bencana telah menjadikan mereka seperti pengemis.  Mereka tak hanya kehilangan orang tua, juga masa depannya," tuturnya lirih, sambil meminta kepada salah satu stafnya untuk membagikan anak-anak itu uang, dan menanyakan keadaan mereka.
 

Ditengah berbagai kesulitan yang menghimpit dirinyapun Neloe selalu ingat penderitaan orang lain.  Misalnya hari Rabu (4/5) lalu, ketika ia disibukkan dengan urusan pemeriksaan dirinya oleh Kejaksaan Agung, Neloe masih sempat menelepon PROSPEKTIF (majalah prospektif) di Bali menanyakan tentang kebenaran meninggalnya Pemimpin Umum Majalah PROSPEKTIF, Valens Goa Doy atau biasa dipanggil Om Valens di RS Sanglah Bali.  Bukan hanya itu, Neloe juga menanyakan nasib istri dan anak-anak Om Valens.  Di ujung pembicaraan Neloe menawarkan apa yang bisa ia bantu untuk keluarga Om Valens, dan berjanji akan terbang ke Bali untuk memberikan penghormatan terakhir pada Om Valens, bila hari itu urusan pemeriksaan Kejaksaan selesai lebih cepat.  Padahal antara Om Valens dan Neloe, baru sekali bertemu, itupun pada suatu acara di Hotel Mulia.

Diluar sifatnya yang selalu penuh kasih kepada sesama itu, Neloe juga dikenal sebagai sosok keras kepala, dan tidak mau meminta-minta untuk tujuan pribadinya.  Sebagai contoh, manakala badai menghantamnya, ia sempat disarankan teman-temannya untuk datang ke Si A atau si B, untuk mejelaskan.  Namun Neloe memilih "diam", dan berprinsip bahwa kebenaran itu pasti suatu saat akan menang, dan akan punya tempat.  Sayang, sebelum kebenaran itu ditemui Neloe, ia sudah digulung oleh belitan konspirasi yang ia sendir tidak paham muaranya.  "Apa salah saya?" tanyanya bergumam, manakala di ujung karirnya sebagai bankir yang sudah malang melintang selama 38 tahun, ia dinyatakan sebagai tersangka hanya dalam hitungan hari.

Apa pelajaran yang bisa disimpulkan dari liputan di atas?

Emas tetaplah emas dan bukan sepuhan..... sekalipun Neloe di jebloskan dalam tahanan dan dituduh sebagai tersangka korupsi Bank Mandiri, kebaikannya tetap dikenang orang banyak.
 
Takut akan Tuhan adalah awal dari segala hikmat.  Hal ini akan membuktikan siapa benar dan siapa yang salah.

Yayasan Peduli Kasih (YAPEKA)
Gedung Artha Graha Lt-3A
Jl. Melawai Raya B/194, Blok M, Kebayoran Baru
Jakarta - Selatan, Indonesia
Telp. 62-21-7269884
Fax. 62-21-7269885